Takjil : jawaban atas tuduhan salah kaprah penggunaan kata (RTS-3)

Hits: 25

001932100 1588682774 20200505 Imbas Covid 19 dan PSBB  Pasar Takjil Jalan Panjang Sepi 1 1024x591 - Takjil : jawaban atas tuduhan salah kaprah penggunaan kata (RTS-3)

Lisanuna.com – Salah satu yang paling tak bisa ketinggalan selama bulan Ramadan di Indonesia adalah takjil . Kata ini bisa dibilang menjadi kata paling populer selama Ramadan. Baik di masjid – masjid yang memasang pamflet besar di halaman parkirnya dengan tulisan “Menyediakan takjil setiap hari”, maupun di pasar – pasar kaget yang happening selama bulan Ramadan dengan tulisan “ Sedia Takjil ” atau “ Jual Takjil ”. Semuanya adalah gegap gempita masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim dalam menyambut datangnya bulan suci ini.

FAKTA MENARIK TENTANG KATA TAKJIL

                Kata takjil dengan konteks Ramadan sendiri tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Keseluruhan kata yang ter-isytiqaq dari kata dasar ‘Ajjala ini tidak memiliki hubungan dengan konteks puasa maupun Ramadan.  Salah satunya adalah firman Allah pada  surat  Yusuf ayat 11

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Artinya : “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka” ( QS. Yusuf : 11 )

Baca Juga : RTS-2 : Kata Saum dan Siam

                Istilah takjil sendiri mulai ditetapkan sebagai bagian dari fenomena istilah khas bulan Ramadan sebab beberapa sabda Rasulullah SAW. Salah satunya adalah riwayat Sahl bin Sa’d RA :

عَنْ سَهْلِ بنِ سَعْدٍ ، أَنَّ رسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: لاَ يَزالُ النَّاسُ بخَيْرٍ مَا عَجّلوا الفِطْرَ متفقٌ عَلَيْهِ

Artinya : “dari Sahl bin Sa’d, Rasulullah SAW bersabda : Manusia masih berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka (puasa)” ( Muttafaq ‘Alaih )

Serta hadis yang diriwayatkan Abu ‘Athiyah :

وعن أَبي عطِيَّة، قَالَ: دَخَلْتُ أنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عائشة رضي الله عنها، فَقَالَ لَهَا مَسْرُوق: رَجُلاَنِ مِنْ أصْحَابِ محَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – كِلاَهُمَا لا يَألُو عَنِ الخَيْرِ؛ أحَدُهُمَا يُعَجِّلُ المَغْرِبَ وَالإفْطَارَ، وَالآخَرُ يُؤَخِّرُ المَغْرِبَ وَالإفْطَارَ؟ فَقَالَتْ: مَنْ يُعَجِّلُ المَغْرِبَ وَالإفْطَارَ؟ قَالَ: عَبْدُ اللهِ – يعني: ابن مسعود – فَقَالَتْ: هكَذَا كَانَ رسولُ اللهِ يَصْنَعُ. رواه مسلم.

Artinya : “Dari Abu ‘Athiyah, katanya: “Saya dan Masruq masuk ke tempat Aisyah radhiallahu ‘anha, laiu Masruq berkata padanya: “Ada dua orang lelaki dari sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. tidak melalaikan kebaikan, yang seorang menyegerakan Maghrib dan berbuka, sedang yang lainnya mengakhirkan Maghrib dan berbuka.” Aisyah lalu bertanya: “Siapakah yang menyegerakan Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab: “Yaitu Abdullah -yang dimaksudkan Abdullah bin Mas’ud-.” Aisyah radhiallahu ‘anha lalu berkata: “Demikian itulah yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w.” ( HR. Muslim )

Kemudian diksi ini menjadi istilah yang marak digunakan ulama’ fikih maupun hadis untuk merepresentasikan makna menyegerakan berbuka. sebagaimana kitab Riyadhus Salihin yang menjadikan diksi takjil sebagai judul babnya yang ke 222

باب فضل تعجيل الفطر وَمَا يفطر عَلَيْهِ، وَمَا يقوله بعد الإفطار

“Bab keutamaan menyegerakan berbuka puasa, dengan apa berbuka puasa, dan apa yang diucapkan setelah berbuka puasa”

Seiring berkembang dan meluasnya wilayah umat muslim, istilah – istilah ini pun ikut menyebar berdasarkan wilayah penyebaran umat muslim. Hingga kemudian mendapat respon dari local wisdom wilayah dan masyarakat masing – masing.

Baca Juga : RTS-1 : Asal Muasal Kata Ramadan

APAKAH KATA TAKJIL MENGALAMI PERUBAHAN MAKNA?

Sebagai sesuatu yang dinamis, bahasa juga mengalami lika liku kerasanya kehidupan. Ada yang bertahan, ada yang lenyap. Tapi ada pula yang berubah karena banyak faktor. Laurence Jonathan Cohen (1923 – 2006) dalam bukunya The Diversity Of Meaning memaparkan, bahwa kata yang sama (disebabkan perkembangan zaman) berpotensi menghasilkan makna dan penalaran baru. Bentuk bentuk perubahan makna ini bervariasi. Secara garis besar, kita dapat membedakannya menjadi 3 kelompok perubahan. Yakni perluasan makna (widening), penyempitan makna (narrowing), serta transisi makna (conveying).

Untuk mengetahui sebuah kata mengalami perubahan atau tidak (kemudian disebut salah kaprah). Adalah dengan melacak makna dasar dari kaat tersebut untuk dibandingkan dengan makna yang kini telah umum digunakan. Kata takjil sendiri dalam bahasa arab berasal dari kata عجل – يعجل secara umum memiliki arti menyegerakan, mempercepat, dsb. Ibnu Faris dalam Maqayis Al-Lughah menyebutkan

(عَجَلَ) الْعَيْنُ وَالْجِيمُ وَاللَّامُ أَصْلَانِ صَحِيحَانِ، يَدُلُّ أَحَدُهُمَا عَلَى الْإِسْرَاعِ، وَالْآخَرُ عَلَى بَعْضِ الْحَيَوَانِ.

“(‘Ajala) ‘Ain, jim, dan Lam memiliki 2 makna asal yang sahih. Pertama, mempercepat. Kedua, adalah nama hewan (anak sapi)”.

Sedangkan menurut Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, ilustrasi dari kata ‘Ajal adalah menghidangkan makanan sebelum masuknya waktu makan. Dari pendapat kedua linguis Arab besar tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘ajal adalah melakukan sesuatu kurang dari batas waktu yang telah ditentukan. Kata ini secara umum digunakan bahkan hingga saat ini. Orang Arab seringkali marah – marah ketika pekerjaan yang diinginkannya tak selesai di waktu yang diharapkan, ia akan memarahi anak buahnya dengan berkata : “’Ajjil, ‘Ajjil ya basya ‘Ajjil”.

Baca Juga : Buruh Pabrik Pecinta Nizar Qabani

Jika melihat pada konteks hadis Rasulullah, serta beberapa referensi turats yang menggunakan kata Takjil secara khusus sebagai bagian dari prosedur berbuka puasa ala Rasulullah. Dapat disimpulkan bahwa kata Takjil dalam bahasa Arab sama sekali tidak mengalami perubahan makna. Hal ini dikarenakan kata Takjil dalam buku – buku fikih dalam bab berbuka puasa masih diikuti kata Al-Fitr. Ini menunjukkan ketidak mampuan kata takjil dalam bahasa Arab untuk berdiri sendiri dan menunjukkan makna tertentu secara sepesifik. Sehingga bisa dipastikan bahwa kata Takjil masih tetap pada fungsi awalnya dalam bahasa Arab. Tidak mengalami perubahan makna.

DINAMIKA KATA TAKJIL DALAM BAHASA INDONESIA

                Kata takjil adalah satu dari sekian banyak kata dalam bahasa Arab yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam dinamikanya, penyerapan bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia dibedakan menjadi 3 jenis. Yakni perubahan pelafalan tapi maknanya tetap, pelafalan tetap, namun maknanya berubah, serta pelafalan dan makna yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Dalam hal ini, kata Takjil termasuk kata yang punya double meaning yang sama – sama sah digunakan menurut standar bahasa Indonesia.

                Kata takjil dalam KBBI memiliki 2 arti. Yakni arti dengan kode v (verb) Isl (Islam) kata kerja mempercepat (dalam berbuka puasa). Serta dengan kode n (nouns) alias kata benda yang berarti makanan untuk berbuka puasa. Dari sini kita tahu, bahwa penggunaan kata takjil sebagai nama untuk makanan pembuka dalam berbuka puasa adalah sah dalam tata aturan bahasa Indonesia.

                Ini menunjukkan betapa pentingnya belajar bahasa Arab dan ilmu linguistik secara komperhensif agar prasangka buruk tidak mudah menerobos masuk dalam hati kita. Penggunaan kata takjil dalam bahasa Indonesia dan konteks keindonesiaan tidak bisa disamakan dengan bahasa Arab.

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Takjil : jawaban atas tuduhan salah kaprah penggunaan kata (RTS-3)
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *