Studi Sastra Arab di Amerika Serikat

Hits: 39

3591d0cf8f82acb7b6c27fc32e6b944c - Studi Sastra Arab di Amerika Serikat

        HISTORI STUDI BAHASA ARAB DI AMERIKA SERIKAT

    Perkembangan penelitian sastra Arab di Amerika Serikat tidak bisa dilepaskan dari aspek historis mulai dipelajarinya bahasa Arab di AS. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ernest McCarus tahun 1987, disebutkan bahwa Bahasa Arab bahkan sudah dipelajari di AS sebelum proklamasi kemerdekaan tanggal 4 Juli 1776 di Philadelphia. Buktinya, Bahasa Semit mulai dipelajari di AS sejak tahun 1640, di Harvard University. Ketika Charles Chauncey naik menjadi Rektor Harvard tahun 1654 – 1672, Bahasa Arab dimasukkan sebagai salah satu pola bahasa yang serumpun dengan bahasa Ibrani. Kemudian mulai menyebar ke Yale, University of Pennsylvania, Dartmouth, bahkan hingga Theological Seminary di Pricenton tahun 1822.

            Pada awalnya tujuan studi atas bahasa dan sastra Arab di Amerika Serikat digunakan sebagai pendalaman studi teologi yang kala itu sedang berkembang pesat di kawasan Timur. Kemudian bertransformasi menjadi orientasi filologis sebab temuan akan manuskrip – manuskrip dengan nilai budaya yang menarik. Sementara itu, perkembangan studi atas sastra Arab dan dialektika Arab mulai membaik ketika memasuki pertengahan abad ke 20. Hal ini dibuktikan dengan pemusatan konsentrasi kajian bahasa Timur di University of Michigan tahun 1948. Departement of Oriental Languages and Literatures difragmentasi menjadi 2 pusat studi yang berbeda berdasarkan posisi geografis bahasa yang dikaji, yakni Departement of Far Eastern Languages and Literatures untuk kajian rumpun bahasa Timur yang berada di kawasan Asia Timur, serta Departement of Near Eastern Languages and Literatures yang dikhususkan untuk studi terhadap bahasa Ibrani, Arab, Iran, dan Turki.

TOKOH – TOKOH INISIATOR STUDI SASTRA ARAB DI AMERIKA

            Tokoh – tokoh yang sangat berpengaruh pada awal – awal masa kebangkitan studi sastra Arab di AS saat itu diantaranya adalah George G. Cameron sebagai penggagas didirikannya Departement of Near Eastern Languages and Literatures. Beliau adalah filolog dan sejarawan. Seorang pakar budaya Iran dan Elam (bangsa Mesopotamia kuno). Mendapatkan gelar Profesor Emeritus tahun 1975 dari University of Michigan dalam bidang Oriental Studies. Selain itu ada George Hourani, seorang filsuf dan sejarawan. Beliau adalah pakar filsafat Islam yang mendalami tentang Muktazilah. Salah satu tulisannya yang terkenal adalah Islamic Rationalism : The Ethics of Abd Al-Jabbar, diterbitkan Clarendon Press di Oxford tahun 1971, serta Arab Seafaring in the Indian Ocean in Ancient and Early Medieval Times yang diterbitkan Pricenton University Press tahun 1951. Beberapa tokoh lain adalah Ernest N McCarus seorang pakar linguistik Arab yang menginisiasi lahirnya MSA (Modern Standard Arabic).

            Perkembangan akan studi sastra Arab di Amerika Serikat dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah adanya sastrawan – sastrawan Arab Mahjar (Imigran) yang menetap di Amerika Serikat dan konsisten membuat karya dalam bahasa Arab. Dengan konteks budaya Amerika yang dikandung oleh para sastrawan Mahjar ini menambah khazanah baru bagi sastra Arab di dataran Amerika Serikat. Badmus Murtada Adegboyega, dalam Risetnya yang berjudul Migration, Literature, and Cultural Identity : The Case Of Arab Emigrants to the United States in the Late Ninetenth and Early Twentieth Centuries menyebutkan bahwa para penyair  Mahjar ini membawa warna baru dalam khazanah dunia sastra Arab, ini disebabkan sentuhan mereka dengan Budaya Amerika yang bisa dibilang sangat belang dengan Timur Tengah. Selain itu kegiatan penerjemahan karya – karya sastra Arab ke bahasa Inggris American juga mulai marak dilakukan sejak didirikannya The American Literary Translators Association (ALTA) di University of Texas tahun 1978.

PERKEMBANGAN KAJIAN SASTRA ARAB DI AMERIKA

            Salah satu kajian Sastra Arab yang sedang menjadi trendalam dunia akademik Amerika Serikat adalah kajian sastra Arab interdisipliner. Sastra tidak lagi dipandang sebagai satu entitas yang berdiri sendiri, namun punya potensi untuk memberikan pengaruh terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Sastra Arab bukan lagi media reaksi terhadap  fenomena dan budaya semata, ia kini menjelma menjadi satu eksistensi yang berpotensi memberi sumbangsih nyata bagi kehidupan manusia. Sebagaimana yang ditulis oleh Waed Athmaneh seorang Profesor Sastra Arab di University of Notre Dame, Indiana – Amerika Serikat. Beliau adalah pakar Sastra Arab, Politik Timur Tengah abad 20, serta feminisme sastra Arab.  Sekarang ia menjadi kepala Committe on the Status of Faculty Women, serta anggota Middle East Studies Association (MESA). Salah satu karyanya sebagai bentuk dedikasinya terhadap dunia riset kesusastraan Arab adalah sebuah buku berjudul Modern Arabic Poetry : Revolution and Conflict, yang diterbitkan tahun 2017 lalu oleh University of Notre Dame Press. Dalam bukunya ia mengulas perjalanan revolusi puisi Arab Modern dari model Iltizam menuju realita sosial masyarakat Timur Tengah.

Dalam chapter pertama bukunya “The Politics and Poetics of Modern Arab World”, Athmaneh memaparkan bahwa sejak zaman pra-Islam,  Puisi Arab punya peran yang penting dalam kancah perpolitikan antar kabilah (saat itu). Karena Puisi saat itu tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi eksistensi dari sebuah kabilah semata, melainkan juga sebagai ajang intimidasi kekuatan di hadapan kabilah lain, dimana itu adalah bentuk permainan politik. Di abad ke-20, puisi menjadi “senjata” konflik perang dingin antara Mesir dengan Irak dan Syiria. Pasca Serangan Gamal Abdul Nasser terhadap Israel dalam ”Six Day War” tahun 1967, hubungan antara Mesir dan Negara-negara pos-Islamis seperti Iraq dan Syiria saat itu memburuk. Mesir dinilai melangkah terlalu berani, dengan tidak mengajak negara Arab lain dalam peperangan. Walaupun secara de facto Mesir memang mengalami kekalahan, seyogyanya Nasser telah memenangkan namanya sebagai pahlawan nasionalisme dunia Arab, dan dielu-elukan seantero negeri. Pada saat inilah, validasi popularitas Nasser sebagai pahlawan dunia Arab semakin tinggi, karena semua penyair dari lintas negara Timur Tengah (Termasuk dari Syiria dan Iraq) berlomba – lomba memuji Nasser dalam puisi – puisinya, diantaranya adalah Taha Husein yang mendukung penuh cita – cita Nasser untuk menjadikan negara Arab sebagai pilar untuk mewujudkan nasionalisme yang utuh.

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Studi Sastra Arab di Amerika Serikat
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *