RTS – 2 : Tim Saum vs Tim Siam

Hits: 30

maxresdefault 1024x576 - RTS – 2 : Tim Saum vs Tim Siam

Lisanuna.com – Artikel ini ditulis H-37 Ramadan. Kali ini, RTS akan mengupas 2 kata yang seringkali dipasangkan dengan bulan Ramadan. Yakni “Saum” dan “Siam”, keduanya merupakan format mashdar yang berasal dari akar kata yang sama, yakni Shaama – Yashumu yang berarti berpuasa.   Lalu apakah Saum dan Siam memiliki perbedaan? Atau Saum dan Siam ini hanyalah pasangan sinonim yang bisa berkomplementer satu sama lain?

Baca Juga : RTS -1 : Asal Muasal Kata Ramadan

FAKTA UNIK SAUM DAN SIAM

Sebelum membahas tentang Saum dan Siam secara leksikal maupun semantik, kiranya akan lebih menarik bila kita mengungkap fakta unik dibalik kedua kata ini.

Pertama, fakta ini datang dari lokalitas jawa. Kata Siam ternyata juga merupakan ungkapan jawa halus untuk puasa. Orang Jawa dengan tuturan halus, di hari senin atau kamis biasa bertanya pada tamu yang datang ke kediaman mereka dengan perkataan “Siam, nopo?” untuk memastikan ia harus menyiapkan hidangan kepada si tamu atau tidak. Konon kabarnya, istilah ini mulai dikenal dari dakwah walisongo generasi awal yang memang datang dari Yaman langsung. Hal ini juga didukung dengan telah menjamurnya tradisi puasa yang sudah ada di Jawa jauh sebelum Islam datang, meskipun dengan format yang berbeda.

Kedua, Kata Saum dan Siam ini ternyata disebutkan dalam Al-Qur’an hanya beberapa kali, tidak banyak. Kata Siam disebutkan dalam Al-Qur’an hanya sebanyak 3 kali, yakni sekali dalam bentuk Nakirah (Al-Baqarah : 196), serta 2 kali dalam bentu Ma’rifat (Al-Baqarah : 183 dan 187). Sedangkan kata Saum disebut hanya sebanyak satu kali dalam bentuk Nakirah (Maryam : 26), itupun I’rab-nya Nasab, sehingga harus jika kita tulis di kotak pencarian tanpa Alif Nasib tidak akan muncul.

ADAKAH KONSEP SINONIM DALAM AL-QUR’AN?

Sejak zaman linguis generasi awal, perdebatan tentang ada tidaknya sinonim dalam bahasa Arab (terutama dalam kajian Al-Qur’an) telah terjadi. Ada kelompok – kelompok ulama’ yang setuju (Mutsbitin) terhadap konsep sinonim seperti Sibawaih, Ibnu Khalawayh, Abu Hasan Ar-Rumani, Ibnu Faris, Fakhr Ar-Razy, Raghib Al-Ashfahani, dan lain sebagainya.

Bahkan Ar-Rumani adalah ulama’ pertama yang mempopulerkan istilah At-Taraduf (sinonim) sebagai salah satu pembahasan dalam kitabnya As-Shahiby Fi Fiqh Al-Lughah. Dasar yang menguatkan pendapat para pendukung teori sinonim adalah bahwa mustahil menafsirkan kata – kata dalam Al-Qur’an tanpa sinonim, karena menafsirkan kata pasti mendatangkan kata lain yang lebih populer. Ibnu Faris menyatakan, bahwa apabila setiap kata pasti punya eksklusifitas masing – masing, maka mustahil mengungkapkan maknanya menggunakan kata lain.

Baca Juga : Terjemah Puisi “Lau Annana Lam Naftariq” karya Faruq Juwaida

Sedangkan, menurut para ulama yang menolak konsep sinonim (Munkirin) fenomena ditemukannya 2 kata yang memiliki deskripsi yang sama itu tidak ada. Ada 2 kemungkinan jika ditemukan 2 kata yang memiliki kedekatan makna. Kemungkinan pertama, ada downgrade semantik. Atau kemungkinan kedua, kedua kata itu punya lafaz dasar yang biasa digunakan, sedangkan kata yang lain adalah sifat atau julukan. Ulama’ yang mendukung teori ini diantaranya adalah Abu Ali Al-Farisi dan Abu Hilal Al-‘Asykari. Al-‘Asykari bahkan menulis konsepsinya ini dalam sebuah karya fenomenal berjudul Al-Furuq Al-Lughawiyah.

Kini, linguis modern lebih terbuka dengan konsep sinonim. Mereka membagi kedekatan makna menjadi beberapa bagian. Yang bisa dinamakan sinonim adalah kata – kata yang memiliki kemiripan identik (At-Taraduf Al-Kamil). Kata – kata jenis ini jumlahnya sangat sedikit. Syarat 2 buah kata digolongkan sinonim identik adalah apabila penutus asli bahasa tersebut disebutkan 2 kata itu, mereka tidak menemukan celah perbedaannya.

SAUM DAN SIAM DALAM AL-QUR’AN : PERBANDINGAN SITUASI AYAT.

Jika dicari mana diantara keduanya yang paling identik dengan praktek puasa versi syariat Rasulullah, sudah tentu lafaz Siam. Siam digunakan dalam ayat – ayat yang secata eksplisit memerintahkan puasa Ramadan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : “Wahai orang – orang yang beriman, diwajibkan atas kamu semua berpuasa, sebagaimana yang telah kami wajibkan atas orang – orang sebelum kamu. Agar kamu semua bertakwa” (QS. Al-Baqarah  : 183)

Konsep makna menurut situasi dan kondisi kalimat dalam ayat ke 183 surat Al-Baqarah tersebut sama dengan ayat 187. Sedangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 196, kondisi kata Siam saat itu dipergunakan sebagai alternatif pengganti wajib haji yang tidak dapat dilaksanakan karena udzur, bukan sebagai kewajiban independen sebagaimana yang disebutkan ayat 183. kata Siam dihubungkan dengan kata – kata lain dengan situasi I’rab yang sama.

……فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ…..

Artinya : “….Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban…..” (QS. Al-Baqarah : 196)

Baca Juga : Polemik syair dan sastra dalam tinjauan hadis nabi

Sedangkan, dalam surat Maryam ayat 26. Kata Siam memiliki situasi yang sama sekali berbeda dengan ayat diatas. Konsep puasa yang diperkenalkan di ayat ini adalah kisah model puasa nadzar Maryam pada zaman tersebut. tidak hanya dengan menahan nafsu makan dan minum. Tapi juga menahan nafsu berbicara. Sifat puasa ini adalah personal, bukan umum.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya : “maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam : 26)

Menurut para mufassir, penggunaan diksi Saum pada ayat ini adalah salah satu indikasi pembeda antara kata Saum dan Siam. Siam diindikasikan memiliki unsur “puasa ngomong” dalam praktiknya. Alasan digunakanannya diksi selain Saum dalam ayat ini adalah kesesuaian konteks yang berlaku dalam praktik puasanya yang jelas berbeda dengan puasa yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW.

SAUM DAN SIAM MENURUT MUFASSIR DAN LEKSIKOLOG

Al-‘Iz bin Abdussalam dalam Tafsirnya menyebutkan bahwa baik Saum dan Siam memiliki akar kata  (Asl Wahdah) yang sama, yakni Saama – Yasuumu. Artinya adalah Imsak (menahan)

{الصِّيَامُ} الصوم عن كل شيء الإمساك عنه، ويقال عند الظهيرة صام النهار، لإبطاء سير الشمس حتى كأنها أمسكت عنه

“(Siam) Saum akan setiap hal, artinya Menahan darinya. (orang Arab) di siang bolong biasanya berkata “Saama An-Nahar” (Siangnya nahan-nahan), karena laju mataharinya lemot seakan – akan siang menahan laju tersebut”

Ar-Raghib Al-Ashfahani menyatakan, bahwa Siam adalah menahan diri dari apa yang ia senangi. 3 hal yang paling disenangi oleh diri manusia adalah makan, minum, dan sex. Ketiga hal tersebut harus ditahan manusia ketika sedang menjalankan Siam

الصوم في اللغة إمساك عما تنازع إليه النفس، ويقال ذلك في الطعام والشراب والنكاح

“Puasa secara etimologis adalah menahan sesuatu dari kecondongan hawa nafsu. Diantaranya adalah kecondongan terhadap makanan, minuman, dan nikah (berhubungan badan)”

Baca Juga : Karir Kepenyairan Ali bin Abi Thalib

Sedangkan menurut leksikolog anti-sinonim terkemuka, Abu Hilal Al-‘Asykari. Saum dan Siam memiliki perbedaan makna jika dilihat dari alasan peletakan katanya dalam Al-Qur’an

الفرق بين الصيام والصوم: قد يفرق بينهما بأن الصيام هو الكف عن المفطرات مع النية، ويرشد إليه قوله تعالى: ” كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم “. والصوم: هو الكف عن المفطرات، والكلام كما كان في الشرائع السابقة، وإليه يشير قوله تعالى مخاطبا مريم عليها السلام: ” فإما ترين من البشر أحدا فقولي إني نذرت للرحمن صوما فلن أكلم اليوم إنسيا “. حيث رتب عدم التكلم على نذر الصوم

“Perbedaan  antara Siam dan Saum : terkadang kedua kata ini dapat dibedakan. Siam adalah menahan (diri atas) apa – apa yang membatalkannya dengan disertai niat. Sebagaimana Firman Allah :  (dan diwajibkan atas kamu semua….). sedangkan Saum adalah menahan (diri atas) apa – apa yang membatalkannya, serta menahan berbicara sebagaimana syariat di masa lampau. Sebagaimana firman Allah kepada Maryam : (Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah….), Meniadakan makanan adalah salah satu bagian dari Saum”

Dalam KBBI, kedua kata ini juga masuk dalam rentetan kata yang sudah resmi menjadi bagian dari bahasa Indonesia yang resmi. Dengan arti yang sama, yakni puasa. Ingat ! penulisannya adalah “saum” dan “siam”.

Nah, kalian tim saum atau tim siam?

Wallahu A’lam

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - RTS – 2 : Tim Saum vs Tim Siam
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *