Psikologi dan Bahasa : Ketika mulut jadi juru bicara akal

Hits: 51

png clipart outline of the human brain biomechatronics brain blue text 1 - Psikologi dan Bahasa : Ketika mulut jadi juru bicara akal

            Lisanuna.com – sebagai pegiat bahasa, bersinggungan dengan fenomena kebahasaan adalah hal yang lumrah. Kepekaan terhadap kesalahan berbahasa, kesalahan pemilihan kata, atau ambiguitas sebuah statement sudah jadi makanan sehari – hari. Tentunya, hal ini akan selalu melibatkan banyak disiplin keilmuan diluar linguistik. Termasuk diantaranya adalah Psikologi.

Mengapa Psikologi bisa dikaitkan dengan Linguistik?

            Psikologi dan Linguistik mempunyai beberapa sisi kesamaan. Diantaranya, Psikologi mempelajari jiwa yang sifatnya abstrak, bahasa pun demikian. Walaupun menurut Leonard Bloomfield (1949) bahasa adalah kajian empiris, dengan berbagai kontroversinya.

            Dalam berbagai perkembangannya, Psikologi terbagi menjadi banyak segmen, tergantung paham filsafat mana yang menjadi patokan pengembangan Psikologi tersebut. Psikologi mentalistik misalnya, kajiannya adalah proses-proses akal manusia, sehingga seringkali pula disebut dengan istilah ‘Psikologi Introspeksionisme’. Konsep psikologi inilah yang menginisiasi lahirnya Alat bernama Lie Detector (Pelacak kebohongan), dengan menggabungkan proses akal seseorang dengan respon denyut jantung.

            Ada pula Psikologi Behavioral, yang kajiannya berfokus pada perilaku responsif manusia terhadap sebuah rangsangan, serta reaksi solutif yang dikeluarkan manusia. Psikologi jenis ini memang hanya berfokus pada hal-hal yang bersifat empiris, pakar – pakarnya tidak mengkaji proses berfikir atau ide yang menurut mereka absurd.

            Selain itu, ada Psikologi Kognitif. Kajiannya adalah proses – proses kognitifyang terjadi pada seseorang. Proses kognitif adalah proses yang terjadi dalam akal, yang banyak terjadi saat melakukan proses berfikir. Proses bagaimana akal manjusia memperoleh informasi, menerjemahkan, menafsirkan, menyimpulkan, hingga merespon. Terlihat sama dengan psikologi mentalistik, bedanya dalam psikologi mentalistik kita perlu stimulus untuk mendapatkan data respon dari manusia, sedangkan psikologi kognitif lebih komplek, proses kreatif juga masuk dalam kajian psikologi kognitif.

Dimana Linguistik berhubungan dengan psikologi?

            Ada banyak celah keterlibatan linguistik dengan psikologi. Dimana menurut teori strukturalis – generatif proses berbahasa sudah dimulai dari level pikiran. Sehingga dasar – dasar linguistik pun bisa digunukana untuk kajian psikologi mentalistik maupun kognitif.

            Dalam Teori Konseptual C.K Ogden (1957) dan I.A. Richards (1979), salah satu cara pemerolehan makna dalam proses berbahasa adalah melalui reference. Yang tentunya bersifat abstrak dan hanya bisa ditemui di kepala manusia. Reference ini bersifat sangat subjektif, tergantung dari mana kita peroleh informasinya, atau di lingkungan dan budaya mana kita mendapatkannya. Misalkan, Kata ‘Kursi’, Reference kita dan orang eropa tentu berbeda, karena bentuk kursinya berbeda pula.

            Selain itu, menurut Leonard Bloomfield, berbahasa termasuk fenomena behavioral yang sifatnya empirik. Sehingga dikaji melalui Psikologi behavioral pun sangat memungkinkan. Seperti yang dijelaskan dalam prinsip S&R ( Stimulus and Respons ), bahwa bahasa akan diucapkan sebagai bentuk respon dari satu hal.

            Hubungan antara Psikologi – Linguistik adalah hubungan mutualis, artinya satu pihak punya hubungan dengan pihak yang lain. Psikologi bisa menjadikan linguistik sebagai bahan kajian, sedangkan linguistik pun bisa menggunakan psikologi sebagai alat kajian. Singkatnya, Linguistik mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku dan proses berbahasa. Maka dari itu, lahirlah cabang keilmuan baru bernama Psiko-Linguistik sebagai jawaban atas relasi kedua disiplin ilmu ini.

            Para pakar pun, punya berbagai pendapat soal apa definisi yang tepat untuk psiko-linguistik. Psiko-linguistik sebenarnya bukan cabang dari linguistik maupun psikologi, ini adalah ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik. Istilah Psiko-linguistik pertama kali muncul pada tahun 1954, pada tahun tersebut terbit sebuah buku tulisan Charles E. Osgood dan Thomas A. Sebeok di Bloomington, USA. Dengan judul Psycholinguistics : A Survey of Theory and Research Problems.

Sumber :

  1. Abdul Chaer – Psikolinguistik : kajian teoritik
  2. Moh. Kholison – Semantik Bahasa Arab
  3. A. Mukhtar Umar – Ilm Dalalah
a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Psikologi dan Bahasa : Ketika mulut jadi juru bicara akal
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *