MENYOAL NARASI REVOLUSI : MEMBACA ULANG TRAGEDI MESIR 25 JANUARI 2011

Hits: 79

Revolusi Mesir 2011 A Ghulam Zaki Berpijar 1024x512 - MENYOAL NARASI REVOLUSI : MEMBACA ULANG TRAGEDI MESIR 25 JANUARI 2011
Maydan Tahrir / Tahrir Square 26 januari 2011

Gonjang-ganjing sedang melanda pejabat eksekutif. Dikoyak sana dikoyak sini, akibat rindu berhubungan (misskomunikasi). Sebagai negara demokrasi, negara memang memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengeluarkan pendapat apapun. Termasuk diantaranya adalah protes terhadap RUU Cipta Kerja (yang ternyata tak serta merta mengamandemen penuh UU no.13 tahun 2003).

Mahasiswa, buruh, anak SMK, sampai ormas-ormas turun ke jalan, menandakan kesehatan mereka di tengah pandemi, tiada artinya bila demokrasi tak lagi dijunjung tinggi. Sebagian menganggap aksi belum usai, hingga akhirnya Bu Menaker berkunjung klarifikasi, di podcast #closethedoor, saya kira dari sekitar 5000 komentar, semuanya manggut-manggut tanda lega atas penjelasan Bu Ida fauziyah, putra asli Mojokerto yang kini menjabat Menteri Ketenagakerjaan.

Nah, disaat upaya-upaya diplomasi sedang dilakukan beberapa pihak. Ada sebuah kabar simpang siur, tentang segelintir orang yang akan melancarkan Revolusi besar-besaran, karena sudah muak dengan kotornya perpolitikan negeri. Mereka adalah konsolidasi beberapa ormas Islam, yang kabarnya tinggal menunggu hari ‘sang imam’ akan pulang ke tanah air.

Benar atau tidak kabar tersebut, sebagai orang yang suka baca-baca soal politik internasional, saya boleh dong ngomong?

Revolusi tak semudah yang kita kira, tak perlu jauh-jauh, belajar lah sama sejarah sendiri. Reformasi 98? Mundurnya BJ Habibie? Dimakzulkannua Gus dur? Apa tuntutannya? Reformasi.

Revolusi tak semudah yang kita kira, revolusi itu bukan seperti sunat, yang deg2an di awal, lalu lepas pasrah setelah dilakukan. Revolusi lebih mirip pernikahan, dimana yang kudu dapat porsi banyak di pikiran kita adalah setelah malam pertama, bukan malam pertamanya. Perjuangannya adalah untuk hari-hari selanjutnya, bukan untuk tragedi dan ‘pertumpahan darah’ nya.

Belajar dari Timur Tengah, negeri yang selalu diagung-agungkan oleh kelompok fundamentalis. Bagaimana revolusi Arab springs 2011? Bahkan Mesir sebagai Pimpinan Liga Arab pun menelan banyak korban jiwa.

Gerakan yang dimulai 25 Januari 2011 itu menuntut pergantian rezim, dengan isu yang hampir sama dengan kita : ekonomi. Kemiskinan, pengangguran, dan KKN yang saat itu tengah mencapai puncaknya dan membuat muak rakyat Mesir, membawa mereka turun ke jalan.

Siapa yang menjadi aktor penting? Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai ormas yang menjadi motor penggerak terbesar demonstran. Mereka dengan lantangnya menyuarakan suara rakyat, menganggap diri mereka adalah “Messiah” yang diturunkan tuhan ke bumi untuk mengubah tatanan hidup masyarakat Mesir.

Tuntutan mereka 1, mundurnya Hosni Mubarak dari kursi kepresidenan, beserta seluruh “orang”nya. Revolusi? Ya

Kendati Mubarak dikenal sebagai diktator ulung yang mampu membungkam rakyat selama kurang lebih 30 tahun lamanya, Mubarak dikenal sebagai presiden yang mampu mempertahankan stabilitas harga dalam kurun waktu yang cukup lama. Memang sudah takdir ilahi, Revolusi Tunisia dan Dorongan dari IM sebagai partai oposisi utama akhirnya mampu menggerakkan rakyat, hingga akhirnya jabatan yang selama ini Mubarak pertahankan selama 3 dekade harus diletakkannya pada 11 februari 2011. Mubarak dan keluarganya diadili, dan dihukum penjara seumur hidup, atas kasus pelanggaran HAM yang selama ini ia lakukan. Aksi yang tak henti-hentinya dilakukan di tengah ibukota dan seluruh penjuru negeri akhirnya mampu menggeser Mubarak ke meja hijau.

Lalu apa? Setelah Mubarak mundur?

Setelah disumpahnya Omar Suleiman menjadi Plt. presiden, Mesir melakukan pemungutan suara. Hingga diangkatnya Mohamad al-morsi sebagai presiden, dari partai IM. lalu apa? Setahun kepemimpinannya, kelompok oposisi yang dulu berkoalisi dengan IM mulai merasa tak nyaman. Mereka merasa aspirasi yang selama ini dijanjikan IM demi kebaikan negara hanya omong kosong belaka, tujuannya adalah menjadi pemangku pemerintahan.

Konflik? Antara IM dan partai oposisi. Setahun menjabat, 2013 Al-Morsi dipaksa mundur dari kepresidenan oleh militer. Hingga akhirnya meninggal di kursi persidangan. Dan kini rakyat mesir harus menanggung lagi beban hidup dibawah kepemimpinan bernyawa militer.

Bagaimana?
Harapan, angan-angan, cita-cita masyarakat.mesir akan pemerintahan yang nyaman, adil, membawa kemakmuran setelah diadakannya revolusi? Yap, itu semua cuma harapan, angan-angan, cita-cita belaka.

Ada yang lebih penting dari Revolusi sebagai tools politik, adalah nasib bangsa sebagai poin kemanusiaan. Revolusi, bukan solusi. Revolusi adalah salah satu komposisi, ibarat sambal revolusi cuma garam, tak mungkin sambal bisa menjadi sambal hanya dengan garam.. masih bamyak spektrum lain yang harus diisi untuk menghasilkan sambal yang baik.

Tunisia yang digadang-gadang sebagai pelaku Revolusi paling berhasil, pun tak menampakkan kesejahteraan yang maksimal pasca Revolusi, begitupula Mesir, dan Libya, serta negara-negara terdampak Arab springs.

Sudahlah, Revolusi sampai kapanpun biarlah cuma jadi narasi. Mari belajar dari mereka, isu yang terjadi, kelompok tukang kompor… Semua hampir sama dengan realita yang terjadi saat ini. Indonesia bukan negara yang mudah terprovokasi, rakyatnya tenang-tenang.

Kita Merdeka bukan karena kita angkat senjata, tapi karena kita mau duduk bersama dengan orang yang pernah menodongkan senjata pada kita.

Mojokerto, 16 Oktober 2020

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - MENYOAL NARASI REVOLUSI : MEMBACA ULANG TRAGEDI MESIR 25 JANUARI 2011
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *