Karir Kepenyairan Ali bin Abi Thalib

Hits: 8

khalifah Ali bin Abi Thalib - Karir Kepenyairan Ali bin Abi Thalib

Lisanuna.com – karir kepenyairan adalah sebuah artikel yang mengungkap sisi kepenyairan seseorang yang kurang dikenal sebagai seorang sastrawan, atau bisa dibilang namanya besar di bidang lain, namun karya – karya sastranya patut kita apresiasi estetikanya. Banyak sekali ulama’ yang punya sisi kepenyairan, karena untuk membangun sense sebuah bahasa diperlukan kedekatan emosional. Para ulama’ tentunya menggunakan bahasa arab sebagai alat utama mendalami sebuah disiplin ilmu, maka untuk dekat dengan bahasa  Arab mereka harus mempelajari sastranya terlebih dahulu.

            Ali bin Abi Thalib adalah satu dari sekian nama yang sudah terlalu besar brandnya sebagai seorang sahabat nabi. Kedekatan Ali dengan Rasulullah tak perlu diragukan lagi, buktinya ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, semua diberi pasangan saudara oleh Rasulullah, kecuali Ali. Rasulullah berkata pada Ali “Wa Anta Akhi”. Demikianlah, karena Ali datang belakangan setelah Rasulullah sampai di Yatsrib alias Madinah.

            Secara genetis, Ali adalah adik sepupu Rasulullah SAW. Putra dari paman beliau Abu Thalib. Ali termasuk golongan orang – orang yang sedari awal sudah masuk Islam, bahkan dikatakan bahwa Ali adalah satu-satunya Sahabat yang tidak pernah merasakan kekufuran, karena ia masuk Islam sebelum baligh. Beliau juga menantu Rasulullah, dinikahkan dengan Sayyidah Fathimah Az-Zahra’ yang keturunannya diberkahi hingga saat ini, wallahu a’lam.

Sajak – sajak Ali bin Abi Thalib banyak mendapat apresiasi dari para sastrawan generasi setelahnya. Diantaranya adalah kesaksian Khairuddin Az-Zirkili seorang penulis syiria berkata bahwa :

أما ما يرويه أصحاب الأقاصيص من شعره وما جمعوه وسموه “ديوان علي ابن أبي طالب” فمعظمه أو كله مدسوس عليه

Adapun pendapat para sastrawan soal puisi dan antologi Ali bin Abi Thalib adalah sebuah masterpiece yang punya pengaruh kuat kepada para penikmatnya

Diantara prestasi antologi Ali ini (yang dikumpulkan dari berbagai sumber) adalah diterjemahkannya puisi – puisi beliau ke bahasa Turki di masa Sultan Abdul Hamid I oleh seorang translator bernama Mustaqem Zeedah Sa’d Deen Sulaiman dengan judul Tarjamat Al-Muntakhab Min Diwaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Buku ini dicetak tahun 1312 di Mesir dan Syiria.

Selain itu, Diwan ini juga di-syarh dalam bahasa Persia oleh seorang Qadhi bernama Husain bin Mu’inuddin Al-Maibdy. Diwan Ali bin Abi Thalib juga sering dikaji di Indonesia.

Ali memiliki banyak ciri dalam puisinya. Kebanyakan puisinya itu beraliran realistik. Karena seringkali mengangkat keresahan sehari – hari yang sangat relate dengan kehidupan. Diantara potongan bait puisinya sebagai berikutdalam bahr wafir :

تغيرت المودة والإخاء … وقل الصدق وانقطع الرجاء

Cinta dan relasi telah berubah, teman makin sedikit, harapanpun mulai terkikis.

وأسلمني الزمان إلى صديق … كثير الغدر ليس له رعاء

Waktu menyerahkanku, pada seorang teman yang piawai berkhianat, dan tak punya rasa sungkan

و رب أخ وفيت له بحق … ولكن لا يدوم له وفاء

Berapa ribu kawan, sungguh kucoba setia padanya. Namun tak panjang juga umur kesetiaannya.

أخلاء إذا استغنيت عنهم … وأعداء إذا نزل البلاء

Mereka mengadu padaku saat aku tak membutuhkan mereka, lalu menjauh bagaikan musuh saat aku tertimpa musibah.

            Sumber :

            Diwan Al-Imam Ali bin Abi Thalib – Abdurrahman Al-Musthofawy

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Karir Kepenyairan Ali bin Abi Thalib
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *