Insting Bahasa dan Narasi Radikalisme

Hits: 33

images 68 - Insting Bahasa dan Narasi Radikalisme

Lisanuna.com – sebagai sebuah gerakan, tentu radikalisme bukan sebuah inisiasi yang bergerak bebas tanpa diorganisir dan dicanangkan strategi – strateginya secara matang.

Gerakan Radikalisme tidak serta merta melakukan kudeta terhadap sebuah negara. Semua, bahkan di negara – negara timur tengah yang sekarang sudah hancur, pasti diawali dengan narasi – narasi persuasif yang disebarkan melalui berbagai media. Seperti cetak, digital, ceramah-ceramah, menyusup di LDK dan Remas, bahkan perusahaan, dsb.


Narasi – narasi ini pada awalnya akan memberikan statement keberpihakan pada rakyat. Jika kita membaca buletin – buletin ini, terkadang hanya membaca keresahan rakyat yang kemudian diberi bumbu ayat – ayat dan comotan kitab – kitab klasik yang bernada ‘mempertentangkan’ Allah dengan pemerintahan (yang dilabeli) zalim.

Narasi – narasi tersebut dibuat untuk merusak logika kebahasaan manusia. dengan perusakan logika tersebut membuat narasi yang lebih persuasif akan membawa dampak yang lebih besar dan mulai membuat otak memberikan perintah respon yang lebih kuat.

Dalam dunia linguistik, kita mengenal istilah Enkode – Dekode, yakni proses menyampaikan dan menerima pesan. Ide yang terfikirkan oleh pengirim pesan akan ditranformasikan menjadi kata – kata yang akhirnya keluar dari alat ucap si pengirim, untuk kemudian diterima oleh alat dengar si penerima pesan, dan diterjemahkan maksudnya di otak si pengirim.


Proses Enkode – Dekode ini mirip permainan baseball. Bedanya, dalam baseball ketika si pelempar melemparkan sebuah bola maka orang yang menangkapnya sudah dipastikan akan menangkap bola yang sama. Sedangkan dalam proses Enkode-Dekode ada sebuah aspek yang sangat berpengaruh pada proses reseptif pesan oleh penerima, yakni keluasan wawasan, pengalaman hidup, dan semua hal yang bersifat konsumtif oleh otak. itu akan berpengaruh pada identifikasi mereka terhadap frasa, kalimat, teks, dan wacana yang disampaikan oleh si pengirim pesan.


Tidak ada yang mampu melawan perusakan logika ini kecuali wawasan yang luas atau minimal edukasi yang merata kepada masyarakat. Wawasan yang luas akan membuat proses Enkode-Dekode menjadi lebih kompleks dan selektif, wawasan ibarat sebuah saringan teh. Semakin luas wawasan yang kita miliki, maka bisa dipastikan semua kata, informasi, dan wacana yang kita terima, maka semakin beragam filter informasi yang kita punya.


Wawasan diperoleh dari asupan literasi yang cukup, dengan cara membaca buku, membaca keadaan, membaca perilaku seseorang, dsb. Usaha untuk memperkaya asupan literasi inilah yang nanti akan memperkuat insting atau kepekaan bahasa kita. Semua bacaan yang kita konsumsi akan mempengaruhi kita baik secara ideologis maupun secara sistematika berbahasa.

Dengan kepekaan bahasa yang kuat, kita kan mudah mengenali kejanggalan – kejanggalan yang terletak dalam sebuah narasi.
Mari sejenak kita teliti dan asah kepekaan berbahasa kita pada buletin “Kaffah” edisi 148 yang terbit 10 Juli 2020 kemarin. Buletin tersebut memiliki Headline bertajuk “Islam Ajaran Mulia”.

Tidak ada yang salah dari judul ini. Melainkan saat kita membaca sub judul pertama yakni “Islam sebagai tertuduh”. Ini adalah contoh logika yang dibenturkan, hubungan antara Tajuk utama “Islam Ajaran Mulia” dengan subjudul “Islam sebagai tertuduh” layaknya mengajak kita untuk membentuk sebuah premis baru, yakni “Islam yang mulia mendapatkan tuduhan”.

Tentu mulia yang punya nilai positif akan sangat tidak masuk akal bila disandingkan dengan kata “tuduhan” yang berkonotasi negatif.
Premis tersebut berusaha menyentuh empati umat Islam, seakan – akan Islam sedang dalam keadaan terdzolimi.

Namun jika kepekaan bahasa kita mumpuni, kita akan menemukan banyak kejanggalan dari penyusunan narasi tersebut. Diantaranya, Pertama artikel ini secara garis membahas KMA 183 tahun 2020 soal revisi kurikulum pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab. Sedangkan narasi dalam artikel ini menggiring opini seakan – akan Islam dicap sebagai gerakan radikal, menyuarakan jihad dan khilafah adalah gerakan radikal. padahal tujuan dari diterbitkannya KMA 183 adalah untuk menjauhkan Islam sendiri dari stereotype radikal. karena yang diusung oleh Menag dalam KMA 183 bukan menumpas isu radikalisme saja, tapi mengelola kembali materi – materi yang dianggap menimbulkan ambiguitas menjadi lebih proporsional dengan kondisi zaman. Misalnya, bab kekhalifahan yang diubah menjadi leadership. Karena sesungguhnya yang paling penting dalam pelajaran kekhilafahan bukan bagaimana sistem kekhilafahannya, tapi esensi – esensi khilafah yang bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.


Kedua, juga akan kita temukan saat redaktur mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang menyatakan Islam sebagai evil ideology yang tentunya sangat tidak berhubungan dengan KMA 183, bahkan jika kita cermati Narasi “Islam Radikal” adalah Narasi yang mereka bawa terus menerus dengan mengulang – ulang dalam berbagai paragraf. Seakan – akan istilah Islam dan Radikalisme adalah 2 kata yang tak bisa saling dipisahkan. Sedangkan, dalam kenyataannya KMA 183 justru berusaha memisahkan 2 terminologi ini. Tidak ada istilah Islam Radikal, yang ada adalah orang radikal yang kebetulan beragama Islam. Sehingga Stereotype seperti ini perlu dimusnahkan dengan jalan menumpas narasi – narasi radikalisme dari tubuh Islam.

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Insting Bahasa dan Narasi Radikalisme
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *