Dialektika Sabda Rasul (2)

Hits: 24

400px Hadith Books 1 - Dialektika Sabda Rasul (2)

Lisanuna.com – Ketiga, Ramzi adalah bentuk sabda Nabi SAW. berupa suatu ungapan simbolik. Model Ramzi seperti ini terkadang menjadi perbedaan dalam mereduksi suatu makna bagi sebagian orang. Misalnya bagi kalangan tekstualis, corak simbolik ini akan susah diterima dan tidak diberi ruang dalam sebuah metodologi pemahaman suatu hadis. Berbeda dengan kalangan skeptis yang melakukan usahanya tersendiri dalam penemuan makna yang tepat.

Diantara contoh hadis yang memuat ungkapan simbolik adalah hadis tentang usus orang mu’min dan orang kafir (dari Ibn Umar), yang berbunyi

…الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ، وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Artinya:

“…Orang yang beriman itu makan dengan satu usus (perut), sedang kafir makan dengan tujuh usus” (HR. Ahmad no. 4718)

Keempat, Hiwar yang berarti sebuah dialog atau percakapan. Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, posisi Nabi SAW. sebagai seorang yang multi social function, memberikan peluang beliau untuk berdialog. Dialog disini apabila dilihat dari kacamata historis, Nabi SAW. melakukan percakapan dengan siapapun.

Dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa Nabi SAW. pernah melakukan percakapan dengan muatan yang sama, namun berbeda-beda respon jawabannya. Setelah ditelisik, ternyata pengaruh latar belakang dari lawan bicara menjadi dasar tersendiri dari Nabi SAW. untuk menanggapi percakapan itu. Seperti hadis tentang amalan utama di bawah ini (dari Abdullah Ibn Umar),

…أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ: تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Artinya:

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW. : Amalan Islam manakah yang lebih baik?, Nabi SAW. menjawab : “Kamu memberi makan yang menghajatkannya; dan kamu menyebarkan salam kepada orang yang kamu kenal; dan yang tidak kamu kenal” (HR. Abu Dawud no. 5194)

Selain itu, aspek linguistik juga mempengaruhi jawaban-jawaban Nabi SAW. Setidaknya penulis akan mencontohkan dalam tiga model diksi yang berbeda dari hadis tentang amalan yang baik. Penanya pada hadis di atas (Abu Dawud no. 5194) menggunakan kata خَيْرٌ. Sedangkan dalam hadis riwayat Muslim no. 59 dan Bukhari 25 Nabi SAW. menjawab dengan berbeda saat penanya menggunakan kata أفضل. Kemudian jawaban berbeda pula saat penanya menggunakan kata أحب pada hadis riwayat Bukhari no. 496.

Kelima, Qiyas atau sering disebut dengan kias/ bahasa kiasan. Yaitu sebuah ungkapan-ungkapan analogi. Pernyataan yang dilayangkan Nabi SAW. dalam hadis bercorak qiyas adalah mengaitkan dua hal yang berbeda, namun terlihat mempunyai hubungan yang logis. Diantaranya adalah hadis tentang pernyaluran hasrat seksual pada riwayat Muslim no. 1674 (dari Abu Dzar), yang berbunyi

…أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Artinya:

“…Bagaimanakah menurutmu sekiranya hasrat seksual (seseorang) disalurkannya di jalan haram, apakah (dia) menanggung dosa? Maka demikianlah bisa hasrat seksual disalurkan ke jalan yang halal, dia mendapat pahala”

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Nabi SAW. menggunakan corak dialog yang bermacam-macam dalam sabdanya. Namun tentu ini merupakan khazanah keilmuan yang tidak secara langsung dinyatakan oleh Nabi SAW. Akan tetapi bentuk pengamatan para ulama ahli. Kekayaan dalam hadis Nabi SAW. hendaknya harus terus dipelajari dan didalami, mengingat hadis menempati posisi prestisius dalam agama islam.

Selanjutnya, penulis merasa perlu untuk mengajak pembaca untuk melakukan kombinasi antar disiplin keilmuan secara kompleks. Perpaduan ini harus didukung dengan cakupan dari berbagai macam perspektif. Karena hadis menjadi salah satu pedoman yang berpengaruh terhadap cabang-cabang keilmuan lainnya, seperti fiqh, tasawuf, kalam, dan sebagainya.

Selain itu, pemahaman mendasar terhadap bahasa sangat vital untuk dikuasai. Modal ini dapat diperoleh dari proses pengajaran dari para guru/ ulama serta ditunjang dengan pelbagai literatur yang fokus terhadap cakupan yang dibutuhkan. Hal ini berfungsi sebagai alat untuk dapat memahami hadis setidaknya dengan keakuratan yang tepat dan optimal.

Wallahu A’lam bi as Showaab

20200625 145732 01 - Dialektika Sabda Rasul (2)
Latest posts by Perdana Putra Pangestu (see all)
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *