Dialektika Sabda Rasul (1)

Hits: 39

400px Hadith Books 1 - Dialektika Sabda Rasul (1)

BEGINI GAYA DIALEKTIKA RASULULLAH SAW. SAAT BERSABDA (1)

Lisanuna.com Nabi Muhammad SAW. adalah seorang pamungkas utusan Allah SWT. kepada umat manusia. Representasi ajaran yang dibawa Nabi SAW. telah tertuang pada nomenklatur teologis yang bisa dinikmati hingga masa kini, yakni al Quran dan Hadis. Hadis sendiri menjadi pijakan kedua yang mendasar, khususnya bagi umat muslim, dalam menjalankan tata kelola kehidupan, baik konteks akidah, ibadah hingga muamalah.

Menurut petunjuk al Quran, Nabi SAW. selain bertindak sebagai rasul, juga dinyatakan sebagai manusia pada umumnya (QS. Saba’:28). Namun, posisi prestisius ini memang menjadi sebuah keistimewaan dari Nabi SAW. sendiri, ketimbang manusia yang lain. Tetapi dengan kenyataan seperti ini, akan membawa kita pada sebuah asumsi mengenai bagaimana Nabi SAW. berkomunikasi dengan umatnya. Apakah Nabi SAW. selalu menggunakan bahasa-bahasa agamis dalam rangka penyampaian risalahnya?. Dalam hal ini, penulis hendak menelisik dialektika kebahasaan Nabi SAW. dalam perspektif hadis.

Posisi Rasulullah SAW. Sebagai Seorang Utusan

Dalam bukti sejarah yang ada, Nabi Muhammad SAW. berperan dalam konteks yang berbeda-beda. Peran tersebut dibawa dapat diindikasi pada beberapa case tertentu. Diantara peran tersebut adalah Nabi SAW. sebagai seorang rasul, kepala negara, pemimpin masyarakat, panglima perang, hakim dan pribadi. (lihat Montgomery Watt dalam Muhammad Prophet and Statesman)

Dengan fakta di atas, konteks hadis bijaknya bisa dilihat dari berbagai sudut. Khususnya dalam hal kebahasaan, secara logis tentu penyampaian Nabi SAW. sangat dipengaruhi oleh kejadian yang berlangsung. Bagaimana tidak? pribadi Nabi SAW. dibentuk dengan lingkungan yang menempatkan sastra sebagai suatu khazanah. Apalagi aspek wahyu yang diturunkan kepada beliau telah terbukti menjadi buah pelipur daya bagi musuh-musuhnya. Tentu hal ini sangat berpengaruh pula pada penyampaian hadis dalam kehidupan sehari-hari Nabi SAW.

Selain itu, lawan bicara pun tentu memengaruhi lingkup dialektika Nabi SAW. Hal demikian bisa menjadi suatu yang wajar, karena posisi yang beliau emban menghadapkannya pada dialog multi dimensional (tidak hanya satu arah). Tidak jarang Nabi SAW. berhadapan dengan para sahabat muslim hingga kaum kafir quraisy, bahkan juga kaum dari kepercayaan dan wilayah yang lain. Inilah yang selanjutnya menurut para ulama diklaim sebagai asbabul wurud. (lihat Imam Suyuti [w. 911 H] dalam Asbab Wurud al Hadis aw al Lam fi Asbab al Hadis)

Corak Dialektika Rasulullah SAW.

Menurut Prof. Syuhudi Ismail dalam salah satu bukunya, corak sabda (matan) Nabi SAW. dapat diklasifikasikan dalam lima jenis, yaitu Jami’/ Jawami’ al Kalim, Tamsil, Ramzi, Hiwar dan Qiyas. Kelima corak ini secara detil tidak bisa diindikasikan dengan akurat pada hadis tertentu, karena harus dilihat terlebih dahulu pada kasus yang dihadapi Nabi SAW.

Pertama, Jawami’ al Kalim yang berarti ungkapan-ungkapan singkat namun padat makna. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Bukhari (dari Abu Hurairah ) no. 6496 yang berbunyi,

… بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الكَلِمِ…

Artinya:

“…Aku diutus (oleh Allah) dengan (kemampuan untuk menyatakan) ungkapan-ungkapan singkat, namun padat makna…

Banyak literatur yang secara khusus menghimpun atau sekaligus membahas mengenai cakupan pembahasan ini. Seperti, al Ijaz wa Jawami’ al Kalim min al Sunan al Ma’tsurah karya Abu Bakr bin al Sina; al Syihab fi Hakam wa al Adab karya Abu Abdullah al Qadha’i; al Ahadis al Kulliyah karya Abu Amr ibn Shalah; dan Jami’ al Ulum wa al Hikam fi Syarh Khamsina Haditsan min Jawami’ al Kalim karya Zainuddin Abu Farj Abdurrahman bin Rajab al Hanbali.

Salah satu contoh hadis mengenai Jawami’ al Kalim adalah hadis mengenai perang (dari Ka’ab bin Malik), yang berbunyi

… الحَرْبُ خَدْعَةٌ…

Artinya:

“…Perang itu adalah tipu muslihat (siasat)…” (HR. Abu Daud no. 2267)

Kedua, Tamsil yang bermakna sebuah pernyataan berupa suatu permisalan. Corak Tamsil dapat ditemui dalam banyak hadis nabawi. Permisalan yang diutarakan oleh Nabi SAW. cenderung dalam rangka mempermudah pesan pemahaman yang ingin disampaikan oleh Nabi SAW. kepada lawan bicaranya.

Hadis yang bercorak tamsil setidaknya dapat diindikasi dalam beberapa petunjuk. Petunjuk tersebut dilacak secara kebahasaan memang mengarahkan pada makna sebuah permisalan. Diantara beberapa indikasi tersebut adalah kata “bagai/ seperti” (ك…), seperti hadis yang ada di bawah ini (dari Abu Hurairah),

…مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya:

“…Barangsiapa melaksanakan haji lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari no. 1424)

Sementara itu, adapula yang menggunakan diksi “misal” (مثل), seperti hadis tentang persaudaraan berikut ini,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya:

“…Permisalan bagi orang-orang yang beriman dalam hal belas kasih, saling mencintai dan saling menyayangi antara mereka seperti tubuh. Apabila ada bagian tubuh yang mengeluh karena sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan keluhan, sehingga tidak dapat tidur karena rasa demam” (HR. Muslim no. 4685)

20200625 145732 01 - Dialektika Sabda Rasul (1)
Latest posts by Perdana Putra Pangestu (see all)
Share

One thought on “Dialektika Sabda Rasul (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *