Buruh Pabrik Penggemar Nizar Qabbani

Hits: 14

unnamed 1 1 - Buruh Pabrik Penggemar Nizar Qabbani

“Hah? Bahasa Arab? Paling jadi guru. Memangnya berapa gaji guru?”

Aku bisu seribu bahasa. Desi pun hanya tertunduk tanda takut akan gertakan bapaknya. Alih – alih mendapat restu, yang ada rangkaian kata yang berusaha meremehkanku keluar dari mulut ayahnya Desi.

“Iya pak, saya memang seorang guru di sebuah sekolah swasta. Gajinya pun tak besar. Tapi saya kan baru lulus pak, baru memulai karir saya”

“memang mau kemana karir kamu? Paling mentok jadi PNS guru, memangnya berapa gaji PNS? Mana mungkin saya mau percayakan anak saya ke kamu”

“Tapi saya serius pak, saya mencintai anak bapak. Saya akan berusaha, bikin usaha lain untuk memenuhi kehidupan kami nantinya”

“Gini ya, nak Rizky. Saya gak bodoh ya, mending kalau lulusan bahasa inggris. Bisa ngajar di bimbel – bimbel mahal. Banyak orang butuh. Memang ada ? orang mau bayar kamu buat ngajar bahasa Arab? Dimana ada bimbel buka bimbingan bahasa Arab. Tunjukkan sama saya sekarang!”

Aku tak bisa menjawab, karena memang aku tidak bisa buktikan apa-apa. Desi pun tak mampu membelaku lagi. Ayahnya sungguh keras kepala menolak untuk merestui hubungan kami.

Karena tak ada lagi yang harus ku utarakan. Akupun pamit pulang

“kalau memang begitu keputusan bapak, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Desi adalah milik bapak sepenuhnya, semua keputusan di tangan Bapak. Kalau begitu saya permisi dulu pak”

Akupun berdiri, ayahnya Desi turut berdiri. Selepas mencium tangannya, aku berbalik badan melangkah menuju pintu rumah. Namun, tak diduga Desi menarik tanganku dari belakang.

“Mas!”

Kutolehkan wajahku ke belakang, wajah Desi memerah menahan air mata. Tangan kiri ku kualihkan ke tangannya yang sedang memegang tangan kananku, aku berusaha melepas genggaman itu. Sembari berkata

“Dek, Ayahmu sudah benar. Dia melakukan ini karena dia sangat menyayangimu. Maafkan mas ya. Belum bisa jadi yang terbaik buat semuanya”.

Ia menangis, tapi apa yang bisa ku perbuat? Melanjutkan langkah, menaiki motor bututku dan mengucap salam perpisahan. Ya, salam terakhir buat Desi dan keluarganya.

Sakit hati? Tentu. Berhari – hari makan terasa tak enak, tidurpun tak nyenyak. Berkali – kali menyesali untuk apa aku belajar di jurusan itu dulu. Sungguh tak visioner dan tak bisa menjamin kebahagiaanku.

**

06.15, hari ini senin. Tentu aku harus berangkat lebih pagi, seperti biasa hari senin sekolah selalu mengadakan upacara bendera. Hari – hariku memang selalu membosankan, tak ada yang bisa membuatnya luar biasa. Apalagi semenjak hubunganku dan Desi berakhir, rasanya susah cari senang. Hanya puisi – puisi Nizar Qabbani yang mungkin bisa sedikit meredakan hari – hari kelam itu, aku mendapatkannya dari teman yang baru pulang dari Timur Tengah. Buku – buku Nizar biasanya aku bawa ke sekolah, kubaca di waktu senggang, di kantin, di kantor guru, maupun saat anak – anak sedang mengerjakan Tugas. Termasuk saat itu, sembari menunggu jam ku mulai, aku duduk di gazebo sekolah hanya ditemani buku Nizar.

Sepuluh menit berlalu. Pak Zaki, Guru Olahraga rupanya menghampiriku selepas mengajar kelas 7 di lapangan.

“Wah, baca apa pak?” sapanya.

“haha, bukan apa – apa pak”

“Widih, Kok Arab – arab gitu pak, ngeri !”

“Lah, saya kan guru bahasa Arab, pak. Kalo saya baca buku bahasa sansekerta baru sampean pantas kaget”

“Ya gak gitu pak, biasa guru bahasa Arab sini juga gak gitu – gitu amat, haha. Paling bisa materi pelajaran doang”

“haha iya pak. Eh, ndak ada kerja – kerja part-time gitu tah pak? Saya butuh ini.”

“Wah, kayaknya ada pak. Bentar saya cek dulu”

Pak Zaki Scroll – Scroll Handphone nya. Dengan wajah serius, sepertinya begitu niat ia mencarikanku pekerjaan.

“Nah, ini pak. Mau ?”

Ku lihat layar HP-nya.

“Dibutuhkan Karyawan untuk packing kaos bola. Masuk sore jam 4-10 Malam”

Pak Zaki mendadak tertawa. Jelas saja, mungkin ia berfikir aku tak akan mau mengambil lowongan itu.

“Okedeh pak, sampean kirim kontak personnya”

“Lah, sampean mau pak?”

“yaudah lah pak, lagi butuh mau gimana?”

Kulihat ada yang bergerak di lehernya, tentu ia menelan ludah tak menyangka aku kan menerima tawaran kerja itu.

**

2 hari kemudian, Setelah mendapat balasan dari HRD Perusahaan, akupun datang untuk memulai kerja di hari pertama. Kebetulan, tak jauh juga lokasinya dari Rumahku. Kira – kira 10 menit naik motor.

15.30 sore, aku sampai di lokasi kerja. Aku mulai bergabung dengan karyawan lain. bergelut dengan Plastik, Label, dan lain – lain. memang kami kerja sampai jam 10 malam, tapi biasanya pabrik baru tutup jam 11 malam. Aku sering sekali pulang telat, nyantai dulu selepas bekerja. Di ruang satpam bercengkrama dengan Mas Doni, Satpam Pabrik itu.

Sebulan kemudian, Libur sekolah tiba. Aku putuskan untuk mengambil lembur di Pabrik itu. Masuk dari jam 8 pagi. Memang terdengar gila, tapi semua kulakukan demi uang. Aku salah menilai uang tak begitu penting. Karena menjomblo, tiada lagi kesenanganku melainkan lewat kesenangan yang bisa ku beli lewat uang.

Di hari pertamaku lembur, betapa kagetnya. Pengawas lapangan packing shift pagi adalah Ayahnya Desi, aku tak tau mau disembunyikan dimana lagi mukaku. Pasti aku dihina habis – habisan lagi.

Benar saja. Dia nampak mentertawakanku dari jauh bersama karyawan – karyawan lain. ingin marah ? tentu ! tapi apa daya, aku tak mau usiaku di pabrik itu hanya sampai hari itu. Aku putuskan untuk tetap sabar menerima semua itu. Hanya Mas Doni, teman nongkrongku tiap malam lah yang selalu mendinginkan suasana, dengan tawa terkekehnya lewat cerita – cerita lucu ku.

“santai mas, sampean dapet pahal itu bisa hibur orang”

Haha, memang kurang ajar mas Doni. Tapi bener juga, kalau kupikir pasti bikin stres.

**

Bubaran Pabrik, seperti biasa aku nongkrong di tempat mas Doni. Masih ditemani buku – buku Nizar. Tiba – tiba Mas Doni berdiri dari depan layar HP-nya. Bergegas menuju pintu gerbang pabrik. Ternyata Pak Felix, Direktur Pabrik sedang berkunjung melakukan cek inventaris bulanan. Aku mah tak peduli, aku lanjut saja membaca.

Tiba – tiba, Mas Doni berlari ke arahku

“Riz, sini ikut”

“Hah? Kenapa?”

‘Udah lah ayo”

Akupun menaruh buku ku dan bergegas mengikuti Mas Doni menuju Pak Felix yang sedang berdiri di depan mobilnya. Aku pikir, “Mampus, mau diapakan aku ini”.

“Nah, ini pak jagonya” kata Mas Doni sambil menunjuk ke arahku.

Hah? Pikirku. Apa-apaan ini.

“ini lo mas Rizky” ujar Pak Felix.

Aku makin deg-degan, apa yang sebenarnya terjadi. Baru juga kerja 2 bulan, duh gusti !

“saya gak bisa balesnya mas” kata Pak Felix, sembari menyodorkan Hpnya ke arahku.

Aku menerima HP itu. Ternyata layarnya menampilkan chat beliau dengan seseorang, menggunakan bahasa Arab.

“ini mas, saya ada customer dari Arab. Saya juga baru kali ini dapet customer dari sana. Sayang kalau gak jadi, beliau mau pesan banyak buat Tim Bolanya. Tapi saya ajak pakai bahasa Inggris dia gak bisa, tolong di terjemahkan dong Mas. Nanti saya kasih tip deh”

“Wah, rejeki nih” pikirku.

Akupun mulai melakukan proses penerjemahan, sambil berkomunikasi dengan Pak Felix. Prosesnya hingga larut malam, maklum Arab dan Indonesia selisih waktunya cukup banyak, disana mungkin masih siang.

“Wah, makasih ya mas Rizky. Akhirnya goal. Nanti sampean kawal sampai finish ya”

“Insya Allah pak, hehe” kataku.

Beliau masuk ke mobil, sambil mencari sesuatu. Lalu keluar kembali, membawa beberapa lembar uang. Lalu menyodorkannya padaku.

“ini ya mas, sementara segini dulu untuk DP. Kalau sudah goal, nanti ditambah lagi”

“Wah, makasih loh pak” kataku. Aku langsung kantongi saja uang itu. Tanpa tau berapa jumlahnya.

Beberapa menit kemudian, Pak Felix meninggalkan pabrik.

Tinggal aku dan Mas Doni disana. Mas Doni mencolekku

“wah, party kecil – kecilan boleh kali, mas”

“haha, bentar. Iya kalau dikasih banyak mas”

Aku keluarkan uang dari kantongku, kuhitung. Ternyata, Pak Felix memberiku 1 juta rupiah. Angka yang cukup gila bagiku !.

“Waduh Mas, ini sih gak party kecil – kecilan. Habis ini langsung kita order semua menu di KFC. Sejuta loh mas”

“Padahal Cuma chat sejam doang ya?! Haha!” sahut Mas Doni.

Kami pun begadang malam itu, toh besok aku libur kerja. Mas Doni memang tinggal di Pabrik, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

**

Senin pagi, seperti biasa aku masuk kerja lembur. Baru saja aku sampai, Pak Felix nampak sudah berdiri di depan ruangannya. Kami saling melihat, aku menundukkan kepala tanda sapaan. Ternyata beliau malah memberi isyarat padaku untuk ikut ke ruangannya.

Akupun bergegas mengikuti isyarat beliau. Karyawan lain, termasuk Ayahnya Desi melihatku dengan mata sinis. Terdengar sayup-sayup bisikan diantara mereka, aku tak tau jelas apa yang mereka bicarakan, aku hanya mendengar surata berbunyi “cat.. cat… cat…” aku tak dengar kata apa yang mereka maksud.

Tibalah aku di ruangan Pak Felix.

“Silakan duduk mas” ucap beliau

Akupun duduk di kursi depan meja beliau. Tak lama kemudian, beliau menyodorkan tangannya ke arahku, tanda ingin bersalaman denganku. Aku bingung, apa maskudnya. Aku raih saja tangan beliau.

“Selamat ya mas Rizky. Ternyata project yang kemarin goal berkat Mas Rizky” kata beliau

Aku, aku tak tau harus bereaksi seperti apa.

Aku hanya tertegun sambil tersenyum ke arah beliau.

“Sisa honornya sudah saya tranfer ke rekening Mas Rizky, saya sudah tanya bagian administrasi nomer rekening Mas Rizky. Silakan di cek”

Waw, spontan aku mengecek mobile banking ku. Dan, angkanya? Fantastis. Aku tak pernah menyangka bakal dapat gaji sebesar itu.

“Mas” panggil beliau

Aku pun langsung mengarahkan pandanganku pada beliau. Menyimak beliau berbicara

“Ini ada daftar beberapa nama calon klien yang sedang saya targetkan. Semuanya dari timur tengah. Saya harap Mas Rizky mau bantu saya”

Aku terkejut.

“Maksudnya pak?” tanyaku terbata – bata.

“Belum dibilangin pihak HRD ya? Mulai besok Mas Rizky kerjanya di sini, di kantor saya. Mas Rizky saya angkat jadi Manager bagian marketing untuk wilayah timur tengah”

Deg !

Luluh lantak

“Oh iya mas Rizky, tolong segera di pelajari berkasnya. Karena minggu depan kita mau terbang ke Mesir untuk presentasi di depan beberapa calon klien dari beberapa tim sepak bola. Saya berharap semuanya sukses dan mau bermitra dengan kita nantinya”

Aku tak sanggup berkata – kata.

Aku raih tangan Pak Felix sambil menciuminya berkali – kali. Ucapan terima kasih tak terhitung berapa kali keluar dari mulutku.

Pak Felix menyuruhku pulang untuk beristirahat dan mempelajari berkas – berkas untuk persiapan presetasi. Keluar dari ruangan, aku berlari ke arah Mas Doni, memeluknya sambil mengucap terima kasih berkali – kali.

Di perjalanan, aku mampir ke rumah kepala sekolah untuk menyampaikan niatku resign dari sekolah. Aku tak pernah menyangka hal ini. Lulusan Bahasa Arab bisa jadi profesi yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Keesokan harinya, aku datang lagi ke pabrik. Tapi tak lagi mengenakan seragam karyawan. Cukup berkemeja rapi, sambil menenteng tas yang berisi berkas-berkas tadi. Semua karyawan melihatku, aku hanya bisa membalas tatapan itu dengan senyuman satu per-satu, termasuk pada Ayahnya Desi pagi itu.

a31804e1a14add56df16d3fb9dc55213?s=250&d=mm&r=g - Buruh Pabrik Penggemar Nizar Qabbani
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *